Bersepeda Menyusuri Tepian Sungai Kapuas

Mengunjungi suatu tempat menggunakan kendaraan bermotor ketika traveling? Sudah biasa! Bagaimana kalau bersepeda? Ketika di Pontianak beberapa waktu lalu saya dan kedua sepupu saya mengikuti tur bersepeda menyusuri tepian sungai Kapuas. Beruntung pagi itu cuaca Pontianak tak begitu terik dan kabut asap sudah tak begitu tebal karena hujan turun di malam sebelumnya. Kami mulai mengayuh sepeda dari gang Gadjah Mada nomor 9 bersama bang Herfin, pemandu sekaligus penggagas cycling tour Kapuas riverside. Inilah tempat-tempat yang kami kunjungi selama mengikuti tur ini.

Gereja Katedral Santo Yosef

Gereja Santo Yosef  adalah gereja yang memiliki eksterior ala-ala Vatikan dan berpadu dengan beberapa ornamen khas suku Dayak. Gereja ini dulunya adalah bangunan Belanda, tapi telah dipugar pada tahun 2011 dan sampai saat ini menjadi gereja termegah di Pontianak.

Daerah PSP
Photo by tim dokumentasi
Di tepi jalan daerah PSP terdapat sebuah dinding yang memiliki relief-relief. Relief disitu menggambarkan kerajaan-kerajaan dan peristiwa sejarah yang ada di Kalimantan Barat. Bang Herfin menjelaskan di dinding tersebut terdapat relief yang menceritakan Sultan Hamid, Sultan di Kasultanan Pontianak yang menciptakan lambang Garuda Pancasila. 

SD Negeri 14 Kota Pontianak
SD ini menjadi salah satu tujuan kami karena bangunannya sudah ada sejak tahun 1902 di masa pemerintahan Belanda yang sekarang dijadikan cagar budaya oleh dinas pariwisata setempat. Uniknya, bangunan ini seluruhnya dibuat dari kayu yang katanya malah semakin kuat jika terkena air. Murid-murid disana pun terbuka dengan kedatangan kami dan ikut bersama kami mengelilingi sekolah mereka. Menyenangkan sekali rasanya bisa berinteraksi langsung dengan orang-orang yang ditemui selama perjalanan.

Taman Kapuas


Photo by tim dokumentasi
Di taman yang sedang dibenahi ini kami istirahat sejenak sambil melihat perahu dan kapal yang lalu lalang di sungai Kapuas. Disana juga terdapat ikon kota Pontianak yaitu tugu khatulistiwa versi replika.

Vihara Bodhisatya Karaniya Metta
Photo by tim dokumentasi
Vihara ini adalah vihara tertua di kota Pontianak yang digunakan oleh etnis Tiong Hoa di Pontianak untuk menyembah dewi samudra. Karena kehidupan mereka tidak bisa terlepas dari perairan khususnya sungai Kapuas.

Pelabuhan Seng Hie
Pelabuhan tradisional ini adalah pelabuhan bagi kapal-kapal kayu yang akan mengangkut bahan makanan untuk didistribusikan ke kampung-kampung. Meskipun sekarang sudah ada jalan darat yang menghubungkan kedua tepi sungai, tapi aktivitas di pelabuhan ini masih terus berjalan. Bagi saya yang tinggal di Jawa, keberadaan pelabuhan ini adalah hal yang unik, karena pelabuhan-pelabuhan di Jawa hanya ada di tepi laut, bukan tepi sungai.

Keraton Kasultanan Kadriah Pontianak
Photo by tim dokumentasi
Untuk menuju ke keraton kami harus melewati jalan kampung di tepi sungai dan melewati tol. Jangan dibayangkan tol ini adalah jalanan panjang, mulus dan berbayar, tol yang dimaksud adalah jembatan yang menghubungkan kedua tepi sungai.

Bangunan keraton memiliki bentuk khas rumah-rumah di Kalimantan, yaitu rumah panggung dua lantai yang terbuat dari kayu. Lantai pertama adalah ruangan inti yang berisi berbagai benda dan dokumentasi pihak keraton sedangkan lantai dua adalah semacam balkon yang memiliki view cukup luas.

Masjid Jami’
Tak jauh dari keraton, terdapat masjid Sultan Syarif Abdurrahman atau yang sering disebut masjid Jami’, masjid tertua di Pontianak yang menjadi salah satu bangunan yang menjadi awal mula berdirinya kota Pontianak, hingga saat ini masjid tersebut masih digunakan seperti masjid pada umumnya.

Kampung Beting
Kampung Beting adalah kampung yang mayoritas dihuni oleh orang-orang dari suku Melayu. Beting dalam bahasa setempat artinya rumah yang mengambang, dulunya rumah-rumah disana benar-benar mengambang di atas sungai, namun saat ini sudah dipondasi dengan semen. Kampung ini mendapat citra negatif oleh warga Pontianak, tapi ketika bersama bang Herfin, mereka yang tampak garang-garang cukup ramah dan bisa mengubah persepsi negatif tentang kampung Beting. Di kampung ini juga ada salah satu rumah yang dijadikan media untuk berkarya dengan mural yang menggambarkan kehidupan warga di sekitar Kapuas. Dari kampung inilah kami akan naik sampan untuk kembali menyeberangi sungai Kapuas.

Usai menyeberangi Kapuas kami mengisi perut di warung makan Mak Etek yang lokasinya di pasar tengah, pasar yang menjual barang-barang bekas. Di warung ini tersedia berbagai jenis olahan ikan nan lezat. Kalau disini jangan kaget ya kalau pelayannya teriak-teriak.
Setelah perut terisi, kami lanjut dengan minum kopi di warung kopi Aming dan hujan turun cukup deras ketika kami sampai disana. Warga Pontianak memiliki kebiasaan meminum kopi, maka dari itu tak heran banyak warung kopi berjejeran di kota khatulistiwa ini. Warung yang terletak diantara pemukiman warga ini selalu dipenuhi warga Pontianak mulai dari kaum muda hingga tua. 


Hujan yang reda siang itu menjadi pertanda bahwa kami harus kembali ke gang Gadjah Mada 9 dan mengakhiri tur bersepeda di tepi Kapuas ini. Ya, sungai Kapuas benar-benar punya cerita, mulai dari soal sejarah, sosial hingga kulinernya.

Ini video dokumentasinya

3 comments: